Matinya Listrik Jakarta: Sebuah Refleksi

Masih segar di ingatan kejadian di hari Minggu, tentang matinya listrik seantero Jakarta dan sekitarnya. Sebuah ibukota, sekaligus kota metropolitan, tiba-tiba dipaksa untuk bertahan tanpa listrik selama 10-12 jam.

Beragam reaksi warga ibukota menaggapi situasi tanpa listrik. Ada yang langsung memaki-maki PLN melalui media sosial, sebelum infrastruktur telekomunikasi tumbang karena genset kehabisan solar. Padahal, makian tersebut tidak akan membantu menyelesaikan masalah, selain melampiaskan kekesalan.

Seiring waktu berlalu tanpa tanda kembalinya listrik, warga ibukota dan sekitarnya perlahan-lahan pun mengungsi ke tempat pengungsian terakhir yang masih memberikan fasilitas umum: Mall dan Hotel. Sebagian karena terperangkap di sore hari yang panas tanpa AC. Sebagian lainnya karena di rumah tidak ada air, akibat pompa air yang mati.

Saya sendiri cukup beruntung, karena air yang tersedia di rumah cukup, meskipun tidak melimpah. Sempat kesal karena internet terputus, tapi kebutuhan komunikasi terobati dengan radio amatir maupun radio siaran. Sore hari pun tidak terlalu terik, bahkan sempat turun hujan gerimis. Anak-anak dengan gembira bermain di luar, karena ipad dan telepon genggam tidak bisa digunakan. Akibat aktifitas fisik luar ruangan yang intensif, dan tidak adanya hiburan membuat anak saya tidur lebih cepat. Pagi ini beliau bangun lebih cepat dan bugar dibanding biasanya.

Tapi memang tidak semua orang seberuntung saya. Sambil menunggu anak main dan mendengarkan percakapan melalui radio amatir, saya melakukan refleksi, bahwa bertapa tergantungnya kita terhadap listrik. Mulai dari kenyamanan, kebutuhan telekomunikasi, memesan kendaraan, makanan, dan lain-lain, warga kota sepertinya sudah lupa bagaimana untuk bertahan dengan cara-cara tradisional tanpa kemudahan dan kenyamanan yang tersedia saat ini.

No Whatsapp/Telegram/Facebook/etc

Tumbangnya listrik dalam jangka waktu lama menyebabkan infrastruktur telekomunikasi pun tumbang. Berita yang biasanya cepat tersebar melalui chat maupun media sosial, mendadak menjadi tidak bisa diakses. Tidak ada Google untuk mencari tahu apa yang terjadi. Bahkan, telepon rumah pun saat ini memerlukan listrik, akibat upgrade jaringan dari kabel tembaga menjadi fiber optic.

Lalu, bagaimana kita mendapatkan informasi sebelum jaman sosial media dan internet yang meluas? Jawabannya: Radio. Selama periode matinya listrik, beberapa radio siaran masih mengudara. Selain memberikan hiburan pengganti Spotify, radio siaran juga memberikan kabar terbaru tentang apa yang terjadi. Bukan hanya kalau listrik mati, tapi misalnya terjadi huru-hara atau bencana alam.

Pertanyaannya, berapa warga Jakarta yang masih mendengarkan radio? Atau masih memiliki radio di rumah dengan tenaga batere?

No Gojek/Grab

Hayo ngaku, kapan terakhir kita melambaikan tangan untuk menghentikan taksi? Sudah lama kan? Atau jangan-jangan sudah lupa cara menghentikan taksi?

Seorang teman bercerita kalau dia terjebak di bandara selama 1,5 jam, hanya untuk mendapatkan taksi! Kemungkinan besar pihak bandara atau armada taksi tidak siap untuk menyambut lonjakan penumpang, karena pemesanan Gocar atau Grab tidak bisa dilakukan. Meskipun komunikasi di bandara tidak terganggu, supir Gocar/Grab tidak bisa mengambil penumpang karena tumbangnya infrastruktur seluler. Belum lagi lalu lintas yang macet parah akibat lampu lalu lintas yang mati.

Selain transportasi, kita juga cukup dimanja dengan layanan Gofood/Grab Food. Bingung mau makan apa? Tinggal pesan Gofood/Grab Food. Lah, kalau infrastruktur seluler mati?

No AC

Warga Jakarta seumuran saya mungkin menjadi generasi terakhir yang tumbuh tanpa AC 24 jam. Rumah tempat saya tumbuh besar hanya memiliki AC di kamar. Sekolah saya dari SD hingga kuliah pun tidak memiliki AC. Hingga di rumah yang saya tinggali saat ini, AC hanya ada di kamar. Selebihnya yang ada hanya kipas angin.

Salah satu keluhan utama yang menyebabkan warga Jakarta lari ke Mall, selain masalah air bersih, adalah panas. Keluhan ini terutama berasal dari anak-anak yang terbiasa dengan AC, di rumah, mobil, dan di sekolah. Banyak mungkin anak-anak yang sulit tidur tanpa AC dan kipas.

Seperti yang saya tulis di atas, karena rumah saya tinggal hanya memiliki AC di kamar, anak saya pun agak terbiasa untuk merasa nyaman tanpa AC. Cukup ditemani kipas kecil dengan tenaga dari powerbank, anak saya tidur cukup lelap.

No TV/iPad/iPhone/Android

Matinya listrik dan infrastruktur seluler sekaligus menghilangkan hiburan utama masa kini: mobile phone dan tablet. Berapa banyak anak-anak dan orang tua yang selalu sibuk dengan perangkat telepon genggam atau tablet sebagai hiburan?

Apakah dengan ketiadaan hiburan elektronik menyebabkan anak-anak menjadi bingung? Atau kita sendiri juga bingung? Hal ini juga terjadi pada saya yang sempat bingung mau ngapain.

Tapi untungnya anak saya tidak kebingungan. Ketika masih ada matahari, dia segera mengeluarkan sepeda. Di luar pun banyak anak-anak seusianya, yang mungkin karena tidak bisa main gadget, lalu main keluar. Dan ketika hari mulai gelap, kitapun lanjut ngobrol. Suatu hal yang sudah jarang dilakukan barangkali ngobrol dengan suara, bukan dengan ketikan dan teks di layar kaca.

Dan bukan hanya saya saja ternyata yang merasa terhibur. Banyak teman-teman yang berbagi bahwa dengan matinya listrik dan jaringan seluler, maka antar anggota keluarga kembali ngobrol.

Ya, mungkin kita memang Bangsa Indonesia, yang meskipun belakangan terasa nyinyir di media sosial, pada akhirnya selalu mencari hal-hal yang baik meskipun dalam situasi sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *