The Finest Hour

“A point in time or a relatively brief period of time when an especially distinguished, admirable, or effective set of actions is performed.” – yourdictionary.com

Salah satu contoh orang-orang yang berada pada periode “The Finest Hour” adalah atlet-atlet yang sedang bertanding di Asian Games 2018. Mereka, baik yang menang mendapatkan medali maupun yang kurang beruntung, melakukan apa yang terbaik dalam periode pertandingan. Mereka melakukan pengambilan keputusan yang terbaik, mendapatkan energi yang entah darimana, dan sebagian dari mereka memenangkan pertandingan.

Tetapi, seseorang tidak harus menjadi atlet untuk berada dalam “The Finest Hour”. Juga tidak perlu menjadi tentara yang menjadi tujuan pidato Winston Churchill di Inggris pada tahun 1940, yang menjadi asal kata “The Finest Hour”. Cukup menjadi seorang biasa yang harus menyeimbangkan urusan pekerjaan, keluarga dan pribadi. Ketiga pekerjaan, keluarga dan urusan pribadi semuanya meminta perhatian lebih, tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang dilakukan oleh para atlet di Asian Games dan tentara Inggris di tahun 1940.

Urusan pribadi biasanya menjadi prioritas yang paling rendah ketika keluarga dan pekerjaan menuntut perhatian lebih. Tetapi ketika urusan pribadi melibatkan komitmen kepada orang lain, maka menurunkan prioritas urusan pribadi menjadi lebih rendah adalah tidak mungkin. Dalam hal ini, saya memiliki sebuah komitmen untuk membantu teman menyiapkan sebuah acara. Persiapan acara sudah dimulai cukup lama, lebih dari 1 bulan hari H. Meskipun persiapan yang dilakukan mengalami beberapa kendala dan keterlambatan, persiapan ini berjalan dengan baik. Dan seperti persiapan acara-acara lainnya, semakin dekat hari H, semakin banyak hal-hal baik besar maupun kecil yang menuntut perhatian.

Dua minggu sebelum acara dimulai, sebuah tuntutan besar di pekerjaan pun datang. Salah satu customer besar kantor memulai tender besar. Untuk mengikuti tender tersebut diperlukan koordinasi dengan beberapa orang yang tinggal di berbagai negara, dengan zona waktu yang berbeda-beda. Jam kerja di kantor pun mulai bertambah hingga jam 8 malam. Dan kalau tidak dipaksakan pulang dan melanjutkan pekerjaan di rumah, mungkin bisa jadi saya masih di kantor hingga jam 10 malam.

Puncaknya, seminggu sebelum acara. Sesuatu hal di rumah menyebabkan saya harus tinggal di rumah hanya bersama si bocah 7 tahun. Memang, si bocah ini cukup mandiri, tapi belum sepenuhnya mandiri, terutama dalam hal sekolah dan tidur malam.

Lalu, bagaimana jadinya? Tidak bisa tidak, upaya terbaik pun harus diberikan. Keputusan harus diambil dengan cepat, dengan menganalisa keadaan, dengan harapan apabila terjadi kesalahan bisa diperbaiki kemudian. Lalu, apa yang bisa di delegasikan kepada orang lain pun di delegasikan, bila perlu dengan membayar sejumlah uang. Dalam periode ini adalah penting untuk menjaga kesehatan dan kejernihan pikiran. Untuk itu sesibuk apapun, waktu untuk membuat dan meminum kopi tetap dijaga, karena buat saya, proses pembuatan kopi adalah sebuah proses yang menenangkan.

Badai belum berlalu, dan rasanya kalimat terakhir dari pidato Winston Churchill di tahun 1940 masih sangat relevan untuk membangkitkan semangat dan menutup tulisan ini.

“Let us therefore brace ourselves to our duties, and so bear ourselves that, if the British Empire and its Commonwealth last for a thousand years, men will still say, ‘This was their finest hour'” – Winston Churchill

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *