Film Review: Venom

Pertama-tama, untuk yang lagi buru-buru, film Venom ini menurut saya adalah just another Marvel super hero movie. Keren, layak tonton, tapi kalau bukan penggemar super hero gaya Marvel ya jadi film action biasa yang keren saja.

Venom, sang jagoan dalam film ini, diperkenalkan pertama kali di layar lebar dalam film Spider-Man 3. Dalam film Spiderman, Venom membantu Eddie Brock untuk balas dendam kepada Spiderman karena Peter Parker/Spiderman sudah menghancurkan karir Eddie. Dalam film Venom ini, Venom dan Eddie Brock menjadi sang jagoan yang menyelamatkan bumi dari invasi mahluk luar angkasa.

Kemiripan karakteristik dari Venom di Spiderman juga masih ada di film Venom ini. Seperti misalnya, asal muasal Venom dari sebuah komet, dan sensitivitas Venom terhadap suara yang berisik. Ada juga beberapa perbedaan. Dalam Spiderman, gaya bertarung venom lebih menyerupai Spiderman. Dalam film Venom, gaya bertarung Venom terlihat jauh berbeda dengan Spiderman. Lalu, dalam satu adegan di film Spiderman, Venom sempat terpisah dari Eddie Brock, dan bisa menjelma menjadi sebuah monster raksasa. Sedangkan dalam film Venom, tanpa Eddie brock atau host lainnya, simbiot-simbiot ini terlihat jauh lebih lemah.

Lalu, bagaimana dengan sisi akting dari para pemain? Tom Hardy sebagai Eddie Brock/Venom bermain dengan OK, tapi tidak meninggalkan kesan yang cukup lama setelah film berakhir. Selain Tom Hardy, cukup senang melihat Michelle Williams kembali ke layar lebar sebagai Anne Weying. Dan sebagai antagonis dalam film ini, Riz Ahmed sebagai Carlton Drake, pengusaha muda, pekerja keras, dan tidak flamboyan, memberikan warna tersendiri dari film ini.

Sebagai penutup, memang mungkin saya bukan penggemar garis keras karya-karya Marvel, sehingga buat saya, film ini lebih menjadi sebuah film action yang keren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *