Book Review: The Power of Habit by Charles Duhigg

Kalau bicara mengenai habit, atau kebiasaan, pasti yang pertama muncul adalah kebiasaan jelek atau buruk. Padahal menurut Charles Duhigg, kebiasaan itu adalah hal yang memungkinkan kita bertahan di dunia yang kompleks. Bayangkan misalnya kalau kita harus selalu membuat keputusan secara sadar untuk hal-hal sederhana, seperti mengikat tali sepatu, membuka kunci pintu, dan rutinitas lainnya.

Meski banyak kebiasaan-kebiasaan baik yang membantu rutinitas harian kita, setiap orang masih memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk, dan keinginan untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Charles Duhigg dalam buku “The Power of Habit” mencoba memberikan sebuah framework untuk mengubah kebiasaan buruk. Bukan menghilangkan, karena cukup sulit untuk menghilangkan kebiasaan buruk.

Secara singkat, untuk mengubah kebiasaan buruk dimulai dengan mengenali kebiasaan yang ingin diubah (misalnya, ngemil di kantin bersama teman). Lalu, dilanjutkan dengan mengenali kepuasan yang didapatkan setelah kita menyelesaikan kebiasaan tersebut (misalnya, bersosialisasi). Dan terakhir dengan mengenali pemicu dari kebiasaan tersebut (misalnya, kebosanan). Setelah mengenali pemicu, kebiasaan dan kepuasan yang didapat, maka kita bisa berusaha melalukan hal yang lain untuk mendapatkan kepuasan yang sama, ketika pemicu kebiasaan muncul.

Framework yang sama, selain untuk mengubah kebiasaan, juga bisa digunakan untuk membuat kebiasaan baru. Caranya cukup dengan memberikan pemicu (misalnya, jam tertentu di pagi hari), melakukan kebiasaan yang ingin dibentuk (misalnya, lari pagi), dan melakukan hal yang memuaskan (misalnya, makan coklat). Saya sendiri sedang mengusahakan membentuk kebiasaan lari pagi ini, tetapi masih berjuang untuk menemukan pemenuhan kepuasan setelah lari pagi. Karena, kalau makan coklat, rasanya tujuan saya untuk mengurangi berat badan tidak akan tercapai.

Setelah bagian pertama mengulas tentang kebiasaan individu, bagian kedua mengulas tentang kebiasaan organisasi. Bagian ini dibuka mengenai bagaimana sebuah organisasi, atau perusahaan seperti Alcoa dan Starbucks. menggunakan framework yang sama untuk mengubah kebiasaan dan meningkatkan profitabilitas. Tetapi hal yang paling menarik dari bagian ini adalah bagaimana seorang marketer memanipulasi kebiasaan seseorang untuk meningkatkan profitabilitas.

Target, sebuah jaringan supermarket, menggunakan konsep pemicu-kebiasaan-kepuasan untuk menanalisa kebiasaan pelanggan, dan mengirimkan brosur dan kupon diskon yang dikemas secara individual sesuai dengan kebuthan pelanggan. Sistem yang digunakan Target dan framework kebiasaan dari Charles Duhigg bisa memprediksi kehamilan seorang perempuan, bahkan sebelum ayah perempuan tersebut sadar bahwa anak perempuannya sedang hamil.

Bagian terakhir dari buku The Power of Habit adalah mengenai kebiasaan masyarakat. Charless memberikan beberapa contoh, bagaimana hubungan dalam sebuah konteks sosial, dengan pemicu yang tepat, bisa memulai sebuah pergerakan, seperti dalam pergerakan kesetaraan rasial di Amerika oleh Martin Luther King,

Lalu, apakah buku ini layak untuk dibaca? Menurut saya, sangat layak untuk dibaca. Buku ini dikenalkan oleh salah satu direktur perusahaan dimana saya bekerja, dan untuk saya, framework untuk mengubah kebiasaan pribadi sangat berguna untuk memiliki kebiasaan yang lebih baik, terutama untuk kesehatan dan pekerjaan. Dan terutama dalam pekerjaan, analisa data berdasarkan kebiasaan seperti yang dilakukan oleh Target sangat relevan untuk semua industri untuk meningkatkan loyalitas pelanggan, dan akhirnya keuntungan yang didapat.

One thought on “Book Review: The Power of Habit by Charles Duhigg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *