The Divemaster Dilema

Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi dive center, dan mengikuti diving trip. Dan sebuah pemikiran yang selalu datang dan pergi setiap kali saya mengikuti sebuah diving trip kembali muncul: menjadi seorang dive master atau scuba instructor.

Siapa yang tidak tertarik dengan gaya hidup sorang pemandu atau instruktur scuba diving? Selalu berada di laut dan pantai, lalu menyelam tanpa harus membayar, malah dibayar. Lalu, sekitar jam 3 atau jam 4, setelah tidak ada murid, atau setelah selesai trip, bisa menikmati sebotol bir atau secangkir kopi di pinggir kolam renang.

What a nice lifestyle, right?

Hal yang menyebabkan saya sampai saat ini belum menjadi seorang guide atau instruktur bukanlah soal lifestyle. Tetapi, seorang intruktur dan guide bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan kelompok yang dibawanya. Kelompok yang membayar pemandu dan instruktur tersebut. Dan ketika kita bertanggung jawab terhadap orang lain, kesenangan scuba diving itu buat saya menjadi jauh berkurang.

Bayangkan diving sambil mengawasi beberapa penyelam lainnya. Kalau para peserta cukup patuh pada briefing awal, memiliki jam terbang (atau jam selam) yang cukup tinggi, mungkin tidak terlalu sulit. “Divemaster sebelah lagi pusing, soalnya pesertanya ada yang tiba-tiba turun terlalu dalam. Trus yang satu lagi malah menyelam mengarah ke laut lepas”, cerita seorang guide di sela-sela surface interval.

Tanggung jawab sebagai instruktur lebih berat lagi. Pertama, yang dibawa adalah orang yang belum bisa, dan masih belajar. Kedua, kemampuan belajar tiap orang berbeda-beda. Seorang instruktur terpaksa tidak meluluskan seorang muridnya pada kelas Advance Open Water. “Dia gak bisa mengoperasikan BCD”, alasan instruktur tersebut. Ibaratnya, masih belum tau cara ngerem sepeda, sudah mau belajar downhill. Bahaya.

Beberapa tahun yang lalu, teman saya, seorang intruktur dan pemandu diving, mengajak saya untuk ikkut sebuah trip dive safari selama 5 hari, dimana dia menjadi pemandunya. Kebanyakan pesertanya adalah teman-teman sendiri yang sudah saling kenal. Suasana pun menjadi akrab. Hampir setiap malam kita semua minum bir, kecuali teman yang sedang menjadi guide. Sempat kita semua berpikir kalau dia memang tidak minum alkohol. Hingga tiba hari terakhir, sebelum besok kita semua terbang kembali, kita semua pergi ke sebuah bar. Pada saat itulah teman yang menjadi pemandu itu baru minum. Ternyata, teman saya itu bukan tidak minum alkohol. Tetapi dia sedang bekerja, meskipun yang dibawa adalah teman-teman sendiri. Dia dibayar, sehingga diapun memberikan layanan yang terbaik.

Saat ini rasanya sulit untuk saya mengambil tanggung jawab sebagai pemandu atau intruktur diving. Buat saya, diving adalah sebuah hiburan. Dan ketika saya dibayar dan bertanggung jawab terhadap orang lain (selain buddy diving), diving bukan lagi hiburan, melainkan pekerjaan.

Mungkin suatu saat nanti, kalau saya sudah siap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *